Ada waktu untuk BICARA pada diri sendiri.
Cobalah bertanya, dia pendengar yang BAIK
.

Mas Mool

Mas Mool (dibaca: Mas Mul) adalah nama panggilan dari kawan-kawan dan keluarga, yang akhirnya menjadi sapaan umum.

Lahir dan tumbuh sebagai nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk belajar. Berkenalan dengan (apa itu) kesenian sejak 2013 ketika (beruntungnya) dipertemukan dengan sebuah Komunitas Sosial-Pengumpul Data Sejarah dan Seni Budaya Japara. Memulai berkesenian menggunakan pena dan tinta, hingga memegang palu dan pahat sebagai tahap perkembangannya dalam berkarya.

Sampai sekarang masih menyebarkan gagasan bahwa, berkesenian untuk terlihat keren walaupun menganggur.

Foto Profil Mas Mool

Pernyataan Seniman

Dalam praktik berkarya, saya menaruh perhatian pada tema spiritual, sosial, serta tradisi dan budaya sebagai ruang refleksi dalam kriya. Tema-tema tersebut tidak saya hadirkan sebagai narasi yang utuh atau literal, melainkan diterjemahkan melalui bentuk, material, tekstur, dan proses kerja sebagai pengalaman visual maupun emosional.

Bagi saya, karya bukan sekadar representasi, tetapi cara untuk memahami kembali hubungan manusia dengan nilai, ingatan, dan jejak budaya yang membentuk kehidupannya. Melalui proses tersebut, material tidak hanya berfungsi sebagai medium, tetapi juga menjadi bagian aktif yang turut menentukan arah dan karakter karya.

Pendekatan visual saya memadukan elemen kasar dan halus, spontan dan terkontrol. Saya tertarik pada ketegangan yang muncul di antara keduanya—antara gestur yang intuitif dengan detail yang presisi, antara kontrol dan ketidakterdugaan. Kontras tersebut menjadi cara saya menerjemahkan kompleksitas pengalaman manusia sekaligus menghadirkan ruang tafsir yang terbuka.

Praktik berkarya saya pada akhirnya merupakan dialog yang terus berlangsung antara gagasan, material, dan proses, di mana setiap karya hadir sebagai jejak pengalaman yang tidak selalu selesai atau pasti.